Monday, October 31, 2011

Crazy Stupid Love




Crazy Stupid Love, to find or to fight on your soul-mate

(2011, Carousel Productions, Glenn Ficarra & John Requa. Steve Carell, Ryan Gosling, Julianne Moore, Emma Stone. Romantic Comedy, 118 min)

Halo! I’m back after almost half a year of lazy setback from writing anything, and here I am reviewing a romantic comedy of 2011, if must I say. Meski saya belum berhak bilang begitu karena masih banyak rom-com yang belum saya tonton.

For me, Crazy Stupid Love is a cheesy movie that’s easy to watch and learn, on how to live your life on crazy and stupid thing called love. Film ini bercerita tentang kehidupan seputar Cal Weaver (Steve Carell) yang sedang mengalami krisis hubungan rumah tangga dengan istrinya Emily Weaver (Julianne Moore), dan berteman dengan Jacob Palmer (Ryan Gosling) yang juga merubah hidup Cal selamanya. Ditemani juga oleh Hannah (Emma Stone) yang wajahnya sangat menghibur hati. Oke bagaimanapun saya masih anak muda. She’s so absolutely sexy, but let’s not talk about that.

First, let’s see their acting. Nampaknya nggak perlu banyak berkomentar ya? Dibintangi seorang Golden Globe Winner (Steve Carell untuk serial The Office), satu Golden Globe Nominee (Emma Stone untuk Easy A), dan dua Oscar Nominee (Ryan Gosling untuk Half Nelson, Julianne Moore untuk Far from Heaven dan tiga film lainnya) nampaknya membuat film ini teh alus, alus pisan untuk ditonton. Percayalah bahwa hampir 70% dialog dalam film ini termasuk pickup line nya cheezy pake z, tapi mereka berempat berhasil ngebawa itu dengan baik dan memberikan beberapa surprise element dalam film ini seperti ketika mereka berempat bertemu.

Secara cerita, nggak terlalu mainstream. Mainly memang bermain-main seputar perasaan dari Cal dan Emily, tapi cukup untuk memberikan komedi-komedi yang bisa ditertawakan meskipun itu artinya adalah tertawa diatas penderitaan orang lain – untuk saya penderitaan saya sendiri (sedikit curcol). I think both the screenplay and the actors are really helping each other on delivering the stories, that much. Terkadang komedinya terkesan sedikit satir dan sedih, memang. Tapi beberapa tamparan sangat kuat di film ini dan terjadi banyak penekanan pada pesan-pesan film ini. Bagus, sebenarnya. Mengingat screenplay ini berasal dari writernya film Cars (2006), nampaknya film ini bisa lebih bagus lagi. Lebih menyayat lagi mungkin.

Ngga ada masalah dengan pengambilan gambar nampaknya, tidak terlalu bereksperimen dengan apapun dan gambarnya cukup mengalir tanpa ada masalah berarti. Begitu juga dengan lagu dan suara yang ada.

One problem, maybe (curcol dikit ya). I like this movie very much because it kind of resembles my situation of life nowadays. Jadi mungkin agak sedikit subjektif dan melebih-lebihkan dalam menilai, tapi saya rasa tidak terlalu banyak. Mungkin bisa saya kasih film ini 8 bintang dari 10 bintang, at least itu masih hanya berbeda 0,4 poin dari ratin IMDb saat ini (7,6/10).

Tapi saya rasa, apabila sedang haus film romcom yang memberikan gelak tawa yang luar biasa, (I did laugh very hard at three scene at least), sedang mencari pembenaran dalam sebuah hubungan, atau ingin mencaritahu kondisi hidup saya seperti apa (bagian ini sebenarnya tidak penting), film ini sangat recommended untuk ditonton.


Keempat poster alternatif ini sangat menarik :)


Sunday, February 27, 2011

Tomorrow, when the war began


Tomorrow, when the war began, simple war, complicating teens...

(2010, Ambience Entertainment, Stuart Beattie. Caitlin Stasey, Deniz Akdeniz, Phoebe Tonkin, Chris Pang. Drama Action 103 min)

Teen movie. Apa yang bisa kita harapkan dari film yang menceritakan tentang kehidupan remaja labil? Boobs, sex, stupid mean girls, boring college life, etcetera etcetera. Tapi bukan itu yang ada di film ini.

Perang. Film ini bercerita tentang perang, tentang bagaimana bocah-bocah-belum-20-tapi-badannya-udah-jadi ini bertahan hidup di kota mereka yang tiba-tiba diserang lalu ada dalam kondisi perang. Bayangkan semalaman anda camping, besoknya pulang-pulang rumah sudah rata dengan tanah. Bahkan tidak sedramatis ESQ ESQ yang sampai rumah ada bendera kuning didepan jalan. Meskipun begitu, film buatan Australia ini cukup menarik hati dan mata, meskipun tidak menarik pikiran.

Film perang identik dengan senjata, darah, teriakan, keributan, kebisingan, kematian, dan tentu saja, tentara. Dalam film ini, hanya karakter terakhir saja yang diminimalisir. Meskipun ceritanya memang sudah super-klise dan mengusung karakter-karakter yang super-stereotip, tapi aksi laga nya nggak kalah sama film-film perang Hollywood.

Bicara super-klise, cerita film ini sebenarnya bisa menarik apabila konflik perangnya jelas. Tanpa bermaksud spoiler, alasan bertahan hidup karena perang memang kuat, tapi perangnya sendiri terjadi karena apa juga kita tidak tahu, meski mungkin akan dijelaskan dalam sequel filmnya. Ending film ini sangat menggantung dan sangat menandakan akan ada sequel. Ibarat film ksatria baja hitam dulu, di sebelah kanan bawah ada tulisan “to be continued” dalam bahasa jepang. Bukan berarti di film ini ada sih ya.

Mari bicara karakter stereotipikal. Apabila saya diminta untuk menyebutkan lima karakter yang harus ada dalam film remaja, maka saya akan menyebutkan hal-hal berikut. Bad guy, tanpa karakter ini, konflik biasanya tidak berkembang. Dumb girl, yang biasanya blonde, mengundang rasa kasihan atau malah rasa kesal dalam film, biasanya karakter favorit saya. Smart people, geek yang ternyata menyelamatkan hidup sekelompok kawanan atau malah orang yang pasti mati pertama. Gorgeous leader, yang biasanya selalu berselisih paham sama bad guy, padahal tidak begitu ahli ngapa-ngapain, tapi banyak omong dan dipercaya banyak orang, dan yang penting, gorgeous, kecuali bukan pemeran utama film. Dan yang terakhir the comedian, joker yang selalu cheer up suasana, pengganti gorgeous leader kalo lagi gaada. Ellie (Caitlin Stasey) berhasil menjadi gorgeous cute leader di film ini, lalu Homer (Deniz Akdeniz) adalah half-bad-guy, karena biasanya bekerjasama dengan Ellie di sebagian besar taktikal film ini. Sayangnya, karakter dumb blonde di film ini kurang cantik (versi saya), diperankan oleh Phoebe Tonkin sebagai Fiona Maxwell. Anehnya The Comedian di film ini, Lee Takkam (Chris Pang) bisa tumbuh romantisme dengan Ellie yang menurut saya agak aneh. Tapi ya terima saja lah, jangan rasis.

Oke, check, semua karakter diatas ada di film ini. Ya tentu saja karakter yang dibutuhkan tidak harus lima itu, di film ini bahkan delapan. Tapi sekali lagi, bedanya semua disini angkat senjata buat perang. Dan adegan-adegan perangnya patut diacungi jempot. Strategi perang –yang sebenarnya mustahil- dibuat sedemikian rupa sehingga banyak kemenangan-kemenangan yang diraih oleh tim gerilya delapan remaja ini. Rupa-rupanya, beberapa dari mereka dialiri darah Chuck Norris karena seringkali tidak tertembak ketika puluhan tentara menembaki mereka.

Jaman sekarang, bicara perang bicara efek. Visual efek yang ditawarkan film ini lumayan oke sebenarnya. Mobil mobil meledak, terbakar, dan adegan favorit saya adalah adegan epic antara serbuan ribuan sapi dan adegan peledakan mobil tangki. Untung saja perangnya bukan perang dengan alien, karena nanti akan sangat merusak cerita pastinya.

Well, untuk menutup review kali ini, saya beri rekomendasi 7 dari 10, karena jarang-jarang film perang non-hollywood ada di muka bumi ini, dan film ini cukup bagus menurut saya, karena diluar cerita yang cukup intriguing (by the way cerita film ini diangkat dari novel dengan judul dan cerita yang sama karangan John Marsden), permainan karakter yang solely epic, efek yang oke, dan adegan-adegan menegangkan, film ini tidak mengusung adegan-adegan seks sampah seperti kebanyakan hollywood-teen movie (bahkan hollywood movie biasa).

Saturday, February 12, 2011

TRE(S)NO




TRE(S)NO, siapa bilang cinta datang dengan sendirinya?

(2011, Kacafilm - LFM ITB, Fikri “Pii” Gustin. Lukman Hakim, Sally Hanako, M Isroffi Pramudito. Comedy Romance 25 min)

Duduk di kursi bus dalam perjalanan panjang jarang sekali mengenakkan, dengan bis AC sekalipun. Apalagi yang duduk di sebelah anda adalah orang yang tidak peduli dan kerjaannya hanya dengerin musik, terus-terusan. Mungkin inilah yang ada di perasaan Sam (Lukman Hakim) sebelum akhirnya duduk bersama Puspa (Sally Hanako) dalam perjalanan singkat mereka di Semarang. Sam adalah pria asli Jowo, yang percaya sama takhayul dan segala ramal-ramal mulai dari barat sampe timur. Sedangkan Puspa, adalah gadis periang yang nampaknya tidak peduli semua itu, dan memiliki hobi fotografi. Keduanya mengikuti perjalanan hunting fotografi dari Bandung – Semarang – Bandung. Seperti apa sih kisah-kisah yang akan mereka lewati? Tonton aja filmnya sendiri.

Seperti biasa, film independent Indonesia rasanya jarang sekali yang bergerak jauh dari percintaan, atau mungkin horror (sama seperti genre film komersilnya). Tapi menurut saya, tidak ada salahnya mengangkat genre yang sama berulang kali apabila memang pengemasannya bisa baik ditambah dengan cerita orisinil. Film TRE(S)NO ini adalah angin segar, ditengah-tengah genre komedi-romance yang kembali menyepi di Indonesia (terakhir yang saya ingat menarik banget itu 30 Hari Mencari Cinta tahun 2004, atau yang lumayan Cinlok di tahun 2008, meski lebih banyak komedinya daripada romance). Patut dinanti-nanti karena saya berusaha menahan diri tidak mengetahui apa-apa sejak pra-produksinya akhir november 2010 hingga sekarang.

Dengan alur cerita yang linear saja, TRE(S)NO menurut saya berhasil dideliver oleh kru Kacafilm dengan cukup apik. Disutradarai oleh Fikri “Pii” Gustin (Sutradara dari Lanjut Gan - 2009) yang notabene hal-hal komedi –tanpa romance– adalah kesehariannya, sebenarnya menurut saya masih banyak kelucuan-kelucuan yang dapat ditarik lagi dari ceritanya. Namun nampaknya Pii memang berusaha menahan agar ceritanya tidak menjadi terlalu dibuat-buat sehingga saat-saat tawa penonton ketiwa premiere film ini pun sama banyaknya dengan saat-saat terjadinya instant button “ngooo” khas film romance. Bisa dibilang, proporsi cerita dan alur emosi yang dibawa pas untuk tertawa dan terenyuh. Saya berani jamin, adegan yang berhubungan dengan poster film akan bisa memberikan kehangatan di hati penonton, seperti perasaan saya waktu menontonnya, di sebelah pacar.

Sembari mengusung tema yang sekalian mempromosikan Indonesia banget, film ini banyak menonjolkan tempat-tempat yang menarik di kota Semarang, meski menurut saya masih banyak tempat-tempat yang kurang diekspos. Mungkin karena keterbatasan durasi dan teknologi, tidak bisa kita nikmati seperti menikmati film The Fall (2006) yang banyak sekali menonjolkan keindahan tempat-tempat yang ajaib di berbagai belahan dunia. Namun jujur saja, saya yang belum pernah ke Semarang berhasil mereka yakinkan dengan film ini bahwa memang Semarang terkenal dengan Pecinan-nya, Mie Nyemek Jawa, dan Museum Kereta Ambarawa (Tempat ini kalo ga salah dipake juga untuk syuting film Sang Pencerah di 2010 lalu).

Percakapan-percakapan lihai antara Sam dan Puspa pun terdengar cocok di telinga, meski acapkali tidak terdengar apa yang mereka bicarakan karena suara ketika saya nonton premiere sedikit mengalami kesalahan teknis. Tidak seperti film indie biasanya, film ini cukup banyak menitikberatkan pada dialog. Untungnya, dialog-dialog penting seperti alasan Puspa mengikuti hunting dan percakapan Sam dan Puspa di warung mie terdengar jelas. Sayang di beberapa adegan Bon (Isroffi Pramudito) yang sebenarnya cukup penting agak kurang terdengar. Namun saya sendiri ragu tidak terdengar karena kesalahan teknis atau terlalu besarnya gelak tawa penonton yang keluar. Ketika anda berpikir bahwa adegannya kaku, bukankah memang dua orang yang baru bertemu mungkin saja akan mengobrol seperti itu?

Dilihat dari segi teknis, film ini bisa dibilang oke punya. Tidak seperti film low-budget-independent lainnya, TRE(S)NO cukup bisa merekam adegan-adegan yang menarik secara oke. Meski sedikit goyang-goyang, kita tetap bisa fokus pada hal-hal yang penting. Tidak begitu banyak juga adegan percuma. Tapi memang ketika nonton premiere-nya di Bioskop Kampus 9009 ITB kemarin, beberapa adegan terlalu washout, mungkin karena infokus yang digunakan belum disesuaikan dengan warna film yang ada, atau mungkin juga ada sedikit salah koreksi di editan.

Tapi memang tidak salah untuk mengeluarkannya di momentum Valentine, baik buat yang sudah berpasangan maupun belum. Karena film ini bisa membuat siapapun yang menontonnya lebih menghargai arti usaha dari cinta itu sendiri.

Jadi, apakah anda sedang jatuh cinta? Atau sedang ingin bersemangat mencari cinta? Atau ingin menghabiskan waktu saja? Sendiri? Berdua? Tontonlah TRE(S)NO, karena anda tidak akan merasakan 25 menit yang anda lalui tiba-tiba akan berakhir begitu saja dan di akhir film, mungkin anda akan menangis, tapi saya rasa sebabnya lebih karena terlalu banyak tertawa.

Maju terus perfilman Indonesia!

PS : Kalau mau nonton filmnya, tunggu saja di screening terdekat atau beli DVD nya (hanya dipungut biaya print cover dan beli dvd+tempatnya), atau kalo boleh ngopi softcopy-nya asal seizin yang punya.

Tuesday, December 7, 2010

Flipped




Flipped, ever heard of a narrative stories? This one have it on edges, both sides.

(2010, Castle Rock Entertainment, Rob Reiner. Madeline Carroll, Callan McAuliffe. Drama Comedy Romance 90 min)

Remember your first love? What was it feels like? How does it go? When did it happened?

Bryce Loski (Callan McAuliffe) adalah bocah kelas 2 SD yang baru saja pindah ke rumah barunya. Di rumah barunya, ia bertemu dengan Juli Baker (Madeline Carroll), bocah tetangga yang punya rasa ingin tahu yang besar. Bryce merasa terganggu dengan kehadiran Juli, bahkan semua itu tidak berubah sampai mereka berdua tumbuh di kelas 7. Namun segalanya mulai berubah setahun kemudian ketika Bryce mulai memikirkan perasaan orang lain, dan tentunya, Juli.

Juli Baker, adalah bocah kelas 2 SD yang sedang kedatangan tetangga baru. Tertarik dengan hal-hal baru dalam hidup, ia bersemangat untuk membantu tetangganya, tanpa menyadari bahwa kehadirannya sebenarnya tidak disukai mereka. Saat itulah Juli bertemu Bryce Loski, bocah pria ganteng dengan mata indah, dan Juli yakin suatu saat Bryce akan menciumnya. Voila, dalam sekejap saja Juli jatuh cinta pertama kalinya pada Bryce. Anehnya, Bryce terus saja menghindari Juli sampai kelas 7, bahkan sempat mencoba menggaet gadis lain. Namun satu tahun kemudian, segala sesuatu mulai berubah.

Does it take that long to tell a simple story?

Jawabannya adalah “Yes, it is!”. Film ini merupakan salah satu film yang luar biasa menurut saya. Sejak awal, film ini sudah memperdengarkan narasi yang baik, menjelaskan kondisi suatu hal, sehingga pada akhirnya sampai akhir film pun narasi itu tetap ada. Film ini sangat bercerita (secara harfiah), dan ceritanya memang menarik. Menurut saya, jarang sekali ada film dengan format penceritaan seperti ini. Hebatnya lagi, film ini benar-benar memperlihatkan kejadian dari dua sisi yang berbeda. Flipped benar-benar membuat saya terkagum-kagum akan gaya penceriteraan yang detail dan mendalam, memberikan eksplorasi pada akting anak kecil dan percintaan remaja, serta bumbu-bumbu kekeluargaan dan komedi yang dicampur dalam sebuah drama visual yang soft.

Bryce, dan Juli. Keduanya memiliki cara berpikir yang berbeda, hidup yang berbeda, kondisi keluarga yang berbeda, namun berada di tempat yang dekat, sekolah yang sama, dan dihadapkan pada satu masalah yang sama, yaitu merasakan cinta untuk pertama kalinya. Sweet, many bitters, but somewhat nice. Mereka bilang, cinta pertama sulit dilupakan. For myself, I think I won’t forget that one. But let’s not start talking about that.

Film yang berangkat dari novel karangan Wendelin Van Draanen tahun 2001 ini memainkan sisi psikologis anak kecil dengan sangat piawai. Kita diajak untuk menikmati kelucuan-kelucuan masa pubertas. Masa awal dimana kita mulai prihatin dan peduli pada orang lain, pada konsekuensi dari suatu hal yang kita lakukan. Banyak sekali perilaku biasa yang ditunjukkan secara luar biasa oleh sutradara Rob Reiner (sutradara The Bucket List-2007 dan When Harry Met Sally-1989). Gesture mata, tubuh, semuanya berjalan seirama dengan narasi yang sangat sesuai.

Kalau saya bilang, mungkin sebuah applause patut diberikan untuk kedua aktor Bryce dan Juli. Keduanya bermain bagus sekali dalam film ini. Mereka berhasil membuat saya merasakan perasan mereka secara mendalam baik melalui ekspresi maupun gaya bicara. Juli yang terkesan cuekan diluar tapi lemah dan lembut didalam, serta Bryce yang ganteng tapi peerlessly coward. Tak hanya itu, mungkin cara menyampaikan berbagai hal lewat narasi lisan juga menarik, ditambah keduanya bermain dengan sangat serasi.

Film ini didukung dengan suasana Amerika tahun 1950-1960-an yang oldies-oldies menyenangkan, belum banyak kendaraan, serta grading warna yang soft dan memberikan kesan hangat. Setting zaman dahulu memberikan kesan tersendiri mengenai budaya/kultur yang terjadi saat zaman itu. Rumah yang masih jarang-jarang, kebun yang harus diurus teratur, lahan kosong untuk dibangun rumah. Segalanya rapi. Benar-benar memberikan kesan kekeluargaan dalam film ini.

Secara visual maupun audio, tidak ada orgasm feeling dalam film ini. Benar-benar selama satu setengah jam kita hanya akan dipermainkan oleh plot dan narasi. Dari segi cerita pun, sebenarnya udah banyak film yang mengusung tema cinta pertama dan membautnya menjadi film. Pengesannya cukup rapi dan enak dilihat, begitu juga efek-efek suara yang sangat jadul, membuat suasana film menjadi lebih hidup.

Overall, film ini bagus menurut saya. If i should give points, i’ll give 8 out of 10!

Monday, November 15, 2010

Ondine (2009)



Ondine, the story was once a fairy tail...

(2009, Wayfare Entertainment, Neil Jordan. Colin Farrell, Alicja Bachleda, Alison Barry. Drama Romance 111 min)

Misery is easy, Happiness you have to work at.

Ondine bercerita tentang seorang pria yang bercerita. Syracuse (Colin Farrell) adalah nelayan di daerah Irlandia, dimana suatu hari dia menemukan seorang wanita didalam jaring yang ditebarnya di laut. Aneh? Ga logis? Nampaknya semuanya memang dimaksudkan untuk bertanya-tanya dan membuat sebuah misteri tersendiri. Wanita yang diangkat oleh Syracuse adalah Ondine (Alicja Bachleda), yang pada akhirnya dianggap seekor mermaid oleh Syracuse dan anaknya, Annie (Alison Barry).

Film ini bisa dibilang cukup lama, cukup panjang, dan kurang menarik perhatian. Selain akting Colin Farrell yang biasanya unik, mungkin hampir tidak adalagi yang menarik dari film ini. Secara cerita, banyak sekali karangan-karangan atau cerita yang dibuat dalam film ini. Agar membuat filmnya cukup logis. Meski dengan twists yang sebenarnya sedikit tertebak, pengetahuan yang didapat cukup membuat saya berpikir “ooh”. Nampaknya film ini kurang bisa memainkan emosi saya. Sebenarnya terdapat beberapa adegan yang visually dramatic namun malah terkesan dipaksakan. Seperti saat-saat Ondine berenang, atau twist terakhir yang menjelaskan segalanya.

Meskipun bercerita tentang kehidupan di daerah laut, film ini tidak banyak memiliki adegan bawah laut yang menakjubkan. Padahal biasanya hal-hal itulah yang dibawa film-film seperti ini. Karena Ondine nampaknya lebih menekankan pada drama dan romansanya, pengambilan gambarnya cukup standar saja. Bahkan di beberapa adegan ada yang bikin saya kecewa, ketika adegan malam dan gambarnya seperti di-push sampai terlihat.

Saya belum pernah menonton “Interview with the Vampire :the Vampire Chronicles” (1994). Salah satu film terbaik Neil Jordan sang sutradara yang pada akhirnya ditempatkan di kover atau poster film ini sebagai pembuatnya. Memang, Neil Jordan bisa dengan baik mengarahkan Colin dan Alicja, terutama Alison yang masih anak kecil, tapi malah bermain sangat bagus. Tapi sayangnya pengkarakteran mereka semua saya rasa kurang mengena. Seperti Syracuse yang awalnya alkoholik berat, dan ketika kembali mengkonsumsinya sebegitu saja langsung tersadar, atau Annie yang penyakitnya tidak dijelaskan mengapa ia harus selalu menggunakan kursi roda, padahal ditengah-tengah film dia bisa tiba-tiba saja berdiri, berjalan dan mendorong kursi rodanya tersebut. Di beberapa review orang yang saya lihat malah banyak yang mencerca Alicja karena hanya dapat “menangis, tertawa, terlihat seksi dan berenang di saat yang tepat”.

Ketika bicara akting, Colin Farrell memang sulit untuk diragukan. Beliau memang cukup piawai memainkan karakter seperti Syracuse dalam film ini.Kalau menurut saya sebenarnya, Alicja juga bermain bagus menjadi Ondine, hanya saja peran yang diberikan padanya cukup terbatas. Tapi jujur dalam film ini Alicja terlihat sangat seksi. Dan keputusan Neil Jordan memilih Alicja karena wajahnya tidak familiar sebagaimana Colin Farrel menurut saya sangat tepat. Terasa sekali ketidak familiaran pada Alicja ketika menonton film ini, yang menyebabkan misteri-misteri Ondine semakin menarik. Sayangnya, tetap saja yang memenangkan Best Actor IFTA Award (sebuah festival film di Irlandia) untuk film ini adalah akting Colin Farrell, bukan Alicja. Dan pemeran mantan istri Syracuse, Maura (Dervla Kirwan) malah memenangkan Best Supporting Actress di IFTA Award juga. Mungkin memang lebih sulit memerankan ibu pemabuk yang tetap sayang dan peduli sama anaknya.

Oh iya, salah satu hal yang menarik dari film ini adalah musiknya. Musik yang mengayun adalah musik-musik Sigur Ros. Awalnya juga saya tidak sadar karena tidak terlalu tertarik dengan musik. Namun ternyata dalam film ini juga mereka di-featurekan dalam suatu adegan. Mungkin Neil juga mengambil mereka sebagai background music karena Sigur Ros merupakan band yang cukup tidak Mainstream dalam dunia film. Aliran musiknya terasa enak di telinga. Sampai akhirnya film ini memenangkan award Best Sound dalam IFTA award. Begitu juga lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Ondine.

Overall, menurut saya film ini biasa saja. Di salah satu review IMDb bilang bahwa film ini sangat cocok untuk ditonton apabila sedang sakit dan butuh tidur. Namun film ini cukup bisa menemani saya yang menunggu waktu kuliah-yang tinggal setengah jam lagi saat menulis review ini- dan hanya di beberapa adegan yang membuat mengantuk, dimana setelahnya biasanya dibangunkan lagi dengan adegan suspense. Mungkin saya akan beri 7 dari 10 apabila harus menilai. Saran saya tontonlah film ini apabila memang anda sedang berkesempatan dan memiliki waktu luang. Rasa-rasanya, jika memang ketika menonton tiba-tiba anda harus pergi, anda akan malas untuk melanjutkannya lagi. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika menonton.

Thursday, October 14, 2010

Everybody's Fine


Everybody’s Fine, when you’re looking...

(2009, Miramax Films, Kirk Jones. Robert De Niro, Drew Barrymore, Kate Beckinsale, Sam Rockwell. Drama 99 min)

You’ll never know what you’ll never see or hear. All you could do is believe.

Mungkin inilah sebuah frase yang nampaknya cukup cocok untuk menggambarkan film ini. Film remake dari film dengan judul yang sama di tahun 1990 dimana skenario orisinilnya dibuat oleh Massimo De Rita dan remake ini diangkat oleh sutradara Kirk Jones (Nanny McPhee - 2005). Dengan perubahan seting dari Sisilia, Italia tahun 80-an ke New York, USA tahun 2000-an, Kirk Jones memberikan penyesuaian dengan teknologi dan tentu saja aktor-aktor yang berbakat. Anehnya, film Everybody’s Fine remake ini memiliki rating 0,4 lebih rendah dibanding film aslinya.

Dengan garis besar yang sama, film ini menceritakan tentang seorang duda beranak empat (lima kalau versi lamanya), Frank Goode (Robert De Niro), yang hidup sendiri dan memiliki penyakit yang harus diurus tiap beberapa jam. Saking sulitnya untuk mengumpulkan anak-anaknya sendiri, Frank memutuskan untuk menemui mereka semua. Namun setelah satu persatu bertemu dengan mereka, nampak bahwa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari dirinya. Meskipun terlihat oleh Frank bahwa semuanya baik-baik saja, namun sebenarnya tidak.

Robert De Niro bermain selayaknya orang tua di film ini (mungkin cukup mudah karena dia memang sudah tua, sekitar 66 tahun saat itu). Pemenang Oscar 2 kali ini cukup mengesankan dan memberikan ekspresi kehangatan seorang bapak yang mungkin banyak diimpikan orang-orang (siapa yang tidak ingin bapak aktor kaya yang serba-bisa? Saya tidak tahu juga sih). Cocok ketika dia bertemu dengan satu-persatu anak-anaknya bahwa perasaan tertekan, menekan, tersakiti, cenderung melindungi dengan segala cara, itu keluar dari gerak-gerik Robert. Sayangnya mungkin karakterisasinya kurang diexplore lebih jauh sehingga keluar karakter yang lebih menarik. Tapi nampaknya pengembangan karakter memang diberikan pada semua karakter lainnya. Sedikit-sedikit mirip dengan karakter Don Corleone dari film The Godfather (1974), hanya Frank sudah kehilangan semuanya baik harta maupun jabatan, dan nyaris kehilangan keluarga juga.

Yang sedikit aneh adalah anak-anaknya. Baik Rosie (Drew Barrymore), Amy (Kate Beckinsale), maupun Robert (Sam Rockwell), ketiganya hampir dan nyaris tidak ada persamaan. Bahkan cenderung berbeda,mengingat sebenarnya mereka bertiga adalah saudara kandung. Terkadang kehangatan hanya terasa sedikit dari Rosie yang memang sudah berkeluarga dalam film ini.

Interaksi antara Robert dan karakter-karakter lainnya inilah yang membuat film Everybody’s Fine ini menarik. Mungkin seperti kita tahu, kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan itu ialah hal klise yang biasa. Namun sebenarnya dalam film ini, kenyataan-kenyataan tersebut diangkat dan dibuat memainkan emosi penonton dengan gerak-gerik, ekspresi, dialog, dan yang paling penting, sinematografinya. Tidak aneh-aneh, namun cukup mengena. Pengambilan sudut dan informasi tempat di Everybody’s Fine cukup mudah dicerna dan dihafal, padahal berada di banyak tempat, ketimbang film-film yang berada di tiga-empat tempat saja namun kurang jelas informasi penempatannya.

Cerita yang cukup mengena memberikan pemahaman di saya bahwa keluarga itu penting. Bahkan sangat penting. Pesan moral dari film ini memberikan kesadaran tersendiri untuk mengubah jalan hidup sejak sekarang dan bagaimana seseorang seharusnya berperilaku dan memberikan reaksi terhadap apapun yang terjadi pada orang yang kita sayangi.

Yang disayangkan memang pemilihan aktornya mungkin, meskipun tertutup dengan akting mereka yang cukup meyakinkan. Tidak menutup kemungkinan anda akan menangis apabila menonton film ini sampai habis. Sangat sedikit faktor-faktor manis, sweet, ataupun unyu yang bisa bikin diabetes di film ini. Yang ada hanya penonton diminta untuk merasakan juga perasaan sakit dan bahagia yang diderita Frank dan anak-anaknya sepanjang film ini.

Not bad lah, meski saya merasa endingnya agak-agak ngegantung dan janggal. I give it 6 out of 10.

This movie could be a reality on someone’s life.

Or it already does

Monday, October 11, 2010

Letters to Juliet




Letters to Juliet, the sweet revenge of classic cliche love story...
(2010, Summit Entertainment, Gary Winick. Amanda Seyfried, Vanessa Redgrave, Christopher Egan, Gael Garcia Bernal. Romance 105 min)

Amanda Seyfried!

Itulah satu-satunya alasan mengapa saya ngebela-belain nonton film ini. Amanda jarang banget main di film-film yang romantis, terakhir saya tau dia di Jennifer’s Body (2009) dan Chloe (2009) yang dua-duanya nggak ada yang ditonton karena keburu nggak niat nontonnya. Film ini adalah film yang akhirnya ditonton setelah terakhir kali nonton Sang Pencerah (2010) beberapa minggu yang lalu. Dan akhirnya merasa bahwa ada lagi film yang cukup menenangkan hati.

The sweet revenge of the classic cliche love story. And why did I choose those tagline?

Letters to Juliet menceritakan tentang Sophie (Amanda Seyfried), seorang fact-checker majalah New Yorker yang berlibur ke Verona bersama tunangannya yang seorang head cook yang sedang membuat restoran sendiri, Victor (Gael Garcia Bernal) sebelum mereka menikah dan malah disibukkan dengan restoran barunya itu. Di Verona Sophie menemukan sebuah dinding tempat curhat wanita dari berbagai penjuru dunia, yang dialamatkan pada Juliet. Kelanjutan ceritanya gimana? Sisanya adalah surprise factor, sebenarnya lebih baik anda tahu ceritanya cukup sampai disini apabila ingin menonton.

"Letters of Juliet"'s wall

Dengan alur yang solid dan lambat, Gary Winick membawa film ini dengan memainkan dialog dan ekspresi pemainnya. Tidak seperti Amanda yang biasanya, disini Sophie berakting cukup luwes dan cukup cocok dengan romantisme calon pasangan yang bertunangan. Dibandingkan aktingnya di Mean Girls(2004) sebagai Karen Smith (film pertama saya melihat Amanda), tentu saja ini sangat bertolak belakang. She’s absolutely not the usual pretty but stupid big-boobed blonde (although she still had those big boobs). Dalam film ini, Sophie digambarkan dengan pintar menjadi seseorang yang cukup smart untuk mengambil putusan-putusan yang membuat hidupnya perlahan berubah dalam film ini.

Sebaliknya, Gael yang menjadi lawan main Amanda malah bisa dibilang aktingnya cukup mengganggu di film ini, tidak seperti Charlie(Christopher Egan) yang sangat tempramental dan spontan dalam berkata, dan bisa terpeta jelas di mukanya apa yang sedang dirasakan, sepanjang kemunculannya di film ini. Jujur saja, sejak pertemuan pertama antara Sophie dengan Victor maupun Charlie, kita semua akan tahu bagaimana ujung film ini akan mungkin berakhir, minimal dua kemungkinan yang paling besar. Namun memang film ini berhasil dibalut dengan komedi-komedi santai dan tidak nakal maupun rasis yang cukup bisa membuat tertawa dengan baik.

"husbands are like wine, they take a long time to mature"

The magnificent things beside Amanda in this movie is the Academy Awards Winner for Best Actress in Supporting Role for a movie Julia (1977), Vanessa Redgrave. Dia bahkan lebih tua 8 tahun dari Indonesia namun sampai saat ini masih bisa berakting layaknya masih berumur 30-an, saat dia memerankan Julia itu. Dia memerankan Claire dengan sangat baik, benar-benar memberikan kesan seorang nenek yang sedang memiliki semangat dan api yang tinggi dalam hidupnya karena ingin menemukan harapan baru untuk melanjutkan hidup dengan penuh cinta. Tergambarkanlah pokoknya, dengan sempurna :D

Claire (Vanessa) and Sophie (Amanda).

Untungnya dengan nonton film ini di HD, memang bisa liat muka Amanda Seyfried yang cantik dengan sempurna. Baik dan bagusnya lagi, film ini nyaris tidak ada adegan BB17 (terkecuali kissing dihitung, yang berarti kalau diputar di televisi indonesia, keseluruhan opening title akan dipotong). Sebagai Drama Romance yang dibuat tahun 2010 ini, Letters to Juliet patut diacungi jempol karena tidak menggembar-gemborkan hal tersebut yang sekarang sudah sangat jarang tidak ada di film Hollywood (Minimal Topless biasanya). Soal musik, tak diragukan lagi bahwa saya tidak bisa menilai dengan baik. Namun secara keseluruhan musiknya enak didengar dan membawa flow kecuali bagian-bagian terakhir film.

Secara garis besar cerita, Letters to Juliet berjalan dengan sangat manis dan romantis! Banyak sekali adegan-adegan balkon yang menjadi titik klimaks film ini disajikan dengan sangat membutuhkan diabetasol (bukan iklan). Namun seperti yang ditulis di tagline di atas, bahwa memang romantisme adegan-adegan tersebut bukannya adegan yang belum pernah ada di film lain ataupun cerita romeo juliet. Klise, seperti ceritanya dan begitu juga dengan format plotting yang digunakan. Tapi film ini akan benar-benar membalaskan dendam anda yang memang sangat kangen film romantis unyu sweet yang akhir-akhir ini agak jarang keluar di bioskop (atau memang saya aja yang jarang nonton). Yang juga dibalut komedi-komedi yang cair.

Claire : "forgive me, where are my manners?"

Sophie : "you know, i've been wondering that since i met you"

Satu lagi yang menarik dari film ini adalah eksplorasi Verona dan Siena yang sangat indah. Verona tergambarkan sebagai sebuah kota yang aktif, namun sangat sedikit ada kendaraan bermotor lalu lalang. Benar-benar penuh dengan keberjalanan segala-sesuatu, namun tetap saja semua orang bebas bergerak karena sedikitnya kendaraan. Sebaliknya di Siena yang menawarkan pemandangan full hijau, garden dan taman-taman yang indah, membuat hati rileks ketika melihatnya.

Adegan favorit saya di film ini berada di adegan balkon di akhir-akhir klimaks film, ketika kadar gula darah sedang tinggi-tingginya. Karena memang banyak sekali dan terpikirkan sebuah cara yang klise, dan sebenarnya romantis, film ini mengajarkan bahwa yang penting bukanlah isinya, namun effort yang dikeluarkan yang penting.

Pokoknya, Letters to Juliet cukup patut ditonton untuk mereka yang kangen dengan drama romantis unyu yang bisa bikin nangis setelah atau ketika nonton. Untuk mereka yang kurang suka, jangan berkecil hati karena masih banyak film lainnya. I give 7,5 out of 10 for this movie!

"Dear Claire. "what" and "if", are two words as non-threatening as words can be. but put them together, side by side, and they have the power to haunt you for the rest of your life. What If?"