Showing posts with label comedy. Show all posts
Showing posts with label comedy. Show all posts

Monday, October 31, 2011

Crazy Stupid Love




Crazy Stupid Love, to find or to fight on your soul-mate

(2011, Carousel Productions, Glenn Ficarra & John Requa. Steve Carell, Ryan Gosling, Julianne Moore, Emma Stone. Romantic Comedy, 118 min)

Halo! I’m back after almost half a year of lazy setback from writing anything, and here I am reviewing a romantic comedy of 2011, if must I say. Meski saya belum berhak bilang begitu karena masih banyak rom-com yang belum saya tonton.

For me, Crazy Stupid Love is a cheesy movie that’s easy to watch and learn, on how to live your life on crazy and stupid thing called love. Film ini bercerita tentang kehidupan seputar Cal Weaver (Steve Carell) yang sedang mengalami krisis hubungan rumah tangga dengan istrinya Emily Weaver (Julianne Moore), dan berteman dengan Jacob Palmer (Ryan Gosling) yang juga merubah hidup Cal selamanya. Ditemani juga oleh Hannah (Emma Stone) yang wajahnya sangat menghibur hati. Oke bagaimanapun saya masih anak muda. She’s so absolutely sexy, but let’s not talk about that.

First, let’s see their acting. Nampaknya nggak perlu banyak berkomentar ya? Dibintangi seorang Golden Globe Winner (Steve Carell untuk serial The Office), satu Golden Globe Nominee (Emma Stone untuk Easy A), dan dua Oscar Nominee (Ryan Gosling untuk Half Nelson, Julianne Moore untuk Far from Heaven dan tiga film lainnya) nampaknya membuat film ini teh alus, alus pisan untuk ditonton. Percayalah bahwa hampir 70% dialog dalam film ini termasuk pickup line nya cheezy pake z, tapi mereka berempat berhasil ngebawa itu dengan baik dan memberikan beberapa surprise element dalam film ini seperti ketika mereka berempat bertemu.

Secara cerita, nggak terlalu mainstream. Mainly memang bermain-main seputar perasaan dari Cal dan Emily, tapi cukup untuk memberikan komedi-komedi yang bisa ditertawakan meskipun itu artinya adalah tertawa diatas penderitaan orang lain – untuk saya penderitaan saya sendiri (sedikit curcol). I think both the screenplay and the actors are really helping each other on delivering the stories, that much. Terkadang komedinya terkesan sedikit satir dan sedih, memang. Tapi beberapa tamparan sangat kuat di film ini dan terjadi banyak penekanan pada pesan-pesan film ini. Bagus, sebenarnya. Mengingat screenplay ini berasal dari writernya film Cars (2006), nampaknya film ini bisa lebih bagus lagi. Lebih menyayat lagi mungkin.

Ngga ada masalah dengan pengambilan gambar nampaknya, tidak terlalu bereksperimen dengan apapun dan gambarnya cukup mengalir tanpa ada masalah berarti. Begitu juga dengan lagu dan suara yang ada.

One problem, maybe (curcol dikit ya). I like this movie very much because it kind of resembles my situation of life nowadays. Jadi mungkin agak sedikit subjektif dan melebih-lebihkan dalam menilai, tapi saya rasa tidak terlalu banyak. Mungkin bisa saya kasih film ini 8 bintang dari 10 bintang, at least itu masih hanya berbeda 0,4 poin dari ratin IMDb saat ini (7,6/10).

Tapi saya rasa, apabila sedang haus film romcom yang memberikan gelak tawa yang luar biasa, (I did laugh very hard at three scene at least), sedang mencari pembenaran dalam sebuah hubungan, atau ingin mencaritahu kondisi hidup saya seperti apa (bagian ini sebenarnya tidak penting), film ini sangat recommended untuk ditonton.


Keempat poster alternatif ini sangat menarik :)


Saturday, February 12, 2011

TRE(S)NO




TRE(S)NO, siapa bilang cinta datang dengan sendirinya?

(2011, Kacafilm - LFM ITB, Fikri “Pii” Gustin. Lukman Hakim, Sally Hanako, M Isroffi Pramudito. Comedy Romance 25 min)

Duduk di kursi bus dalam perjalanan panjang jarang sekali mengenakkan, dengan bis AC sekalipun. Apalagi yang duduk di sebelah anda adalah orang yang tidak peduli dan kerjaannya hanya dengerin musik, terus-terusan. Mungkin inilah yang ada di perasaan Sam (Lukman Hakim) sebelum akhirnya duduk bersama Puspa (Sally Hanako) dalam perjalanan singkat mereka di Semarang. Sam adalah pria asli Jowo, yang percaya sama takhayul dan segala ramal-ramal mulai dari barat sampe timur. Sedangkan Puspa, adalah gadis periang yang nampaknya tidak peduli semua itu, dan memiliki hobi fotografi. Keduanya mengikuti perjalanan hunting fotografi dari Bandung – Semarang – Bandung. Seperti apa sih kisah-kisah yang akan mereka lewati? Tonton aja filmnya sendiri.

Seperti biasa, film independent Indonesia rasanya jarang sekali yang bergerak jauh dari percintaan, atau mungkin horror (sama seperti genre film komersilnya). Tapi menurut saya, tidak ada salahnya mengangkat genre yang sama berulang kali apabila memang pengemasannya bisa baik ditambah dengan cerita orisinil. Film TRE(S)NO ini adalah angin segar, ditengah-tengah genre komedi-romance yang kembali menyepi di Indonesia (terakhir yang saya ingat menarik banget itu 30 Hari Mencari Cinta tahun 2004, atau yang lumayan Cinlok di tahun 2008, meski lebih banyak komedinya daripada romance). Patut dinanti-nanti karena saya berusaha menahan diri tidak mengetahui apa-apa sejak pra-produksinya akhir november 2010 hingga sekarang.

Dengan alur cerita yang linear saja, TRE(S)NO menurut saya berhasil dideliver oleh kru Kacafilm dengan cukup apik. Disutradarai oleh Fikri “Pii” Gustin (Sutradara dari Lanjut Gan - 2009) yang notabene hal-hal komedi –tanpa romance– adalah kesehariannya, sebenarnya menurut saya masih banyak kelucuan-kelucuan yang dapat ditarik lagi dari ceritanya. Namun nampaknya Pii memang berusaha menahan agar ceritanya tidak menjadi terlalu dibuat-buat sehingga saat-saat tawa penonton ketiwa premiere film ini pun sama banyaknya dengan saat-saat terjadinya instant button “ngooo” khas film romance. Bisa dibilang, proporsi cerita dan alur emosi yang dibawa pas untuk tertawa dan terenyuh. Saya berani jamin, adegan yang berhubungan dengan poster film akan bisa memberikan kehangatan di hati penonton, seperti perasaan saya waktu menontonnya, di sebelah pacar.

Sembari mengusung tema yang sekalian mempromosikan Indonesia banget, film ini banyak menonjolkan tempat-tempat yang menarik di kota Semarang, meski menurut saya masih banyak tempat-tempat yang kurang diekspos. Mungkin karena keterbatasan durasi dan teknologi, tidak bisa kita nikmati seperti menikmati film The Fall (2006) yang banyak sekali menonjolkan keindahan tempat-tempat yang ajaib di berbagai belahan dunia. Namun jujur saja, saya yang belum pernah ke Semarang berhasil mereka yakinkan dengan film ini bahwa memang Semarang terkenal dengan Pecinan-nya, Mie Nyemek Jawa, dan Museum Kereta Ambarawa (Tempat ini kalo ga salah dipake juga untuk syuting film Sang Pencerah di 2010 lalu).

Percakapan-percakapan lihai antara Sam dan Puspa pun terdengar cocok di telinga, meski acapkali tidak terdengar apa yang mereka bicarakan karena suara ketika saya nonton premiere sedikit mengalami kesalahan teknis. Tidak seperti film indie biasanya, film ini cukup banyak menitikberatkan pada dialog. Untungnya, dialog-dialog penting seperti alasan Puspa mengikuti hunting dan percakapan Sam dan Puspa di warung mie terdengar jelas. Sayang di beberapa adegan Bon (Isroffi Pramudito) yang sebenarnya cukup penting agak kurang terdengar. Namun saya sendiri ragu tidak terdengar karena kesalahan teknis atau terlalu besarnya gelak tawa penonton yang keluar. Ketika anda berpikir bahwa adegannya kaku, bukankah memang dua orang yang baru bertemu mungkin saja akan mengobrol seperti itu?

Dilihat dari segi teknis, film ini bisa dibilang oke punya. Tidak seperti film low-budget-independent lainnya, TRE(S)NO cukup bisa merekam adegan-adegan yang menarik secara oke. Meski sedikit goyang-goyang, kita tetap bisa fokus pada hal-hal yang penting. Tidak begitu banyak juga adegan percuma. Tapi memang ketika nonton premiere-nya di Bioskop Kampus 9009 ITB kemarin, beberapa adegan terlalu washout, mungkin karena infokus yang digunakan belum disesuaikan dengan warna film yang ada, atau mungkin juga ada sedikit salah koreksi di editan.

Tapi memang tidak salah untuk mengeluarkannya di momentum Valentine, baik buat yang sudah berpasangan maupun belum. Karena film ini bisa membuat siapapun yang menontonnya lebih menghargai arti usaha dari cinta itu sendiri.

Jadi, apakah anda sedang jatuh cinta? Atau sedang ingin bersemangat mencari cinta? Atau ingin menghabiskan waktu saja? Sendiri? Berdua? Tontonlah TRE(S)NO, karena anda tidak akan merasakan 25 menit yang anda lalui tiba-tiba akan berakhir begitu saja dan di akhir film, mungkin anda akan menangis, tapi saya rasa sebabnya lebih karena terlalu banyak tertawa.

Maju terus perfilman Indonesia!

PS : Kalau mau nonton filmnya, tunggu saja di screening terdekat atau beli DVD nya (hanya dipungut biaya print cover dan beli dvd+tempatnya), atau kalo boleh ngopi softcopy-nya asal seizin yang punya.

Wednesday, September 1, 2010

Grown Ups



Grown Ups, will you ever know what happened to you in another 20 years?

(2010, Happy Madison Productions, Dennis Dugan. Adam Sandler, Rob Schneider, Salma Hayek, Kevin James, David Spade. Drama Comedy 102 min)

Sudah nyaris sebulan lebih saya tidak menonton film secara serius atau secara penuh. Hanya nonton serial TV Glee saja setelah nonton Inception (2010) karena kesibukan sehari-hari yang aneh ini. Sebenernya sebelum ini sempat menonton Catch Me If You Can (2002) dan The Fourth Kind (2009) secara sangat tidak fokus di ruang santai unit saya, LFM.

Grown Ups tadinya nampak seperti komedi murahan konyol yang nakal, dimana ekspektasi saya ceritanya akan berkutat di sekitar orang dewasa yang terus saja bersikap seperti anak kecil. Karena di tagline posternya juga "Boys will be boys... some longer than others." Tapi untungnya dengan ekspektasi seperti itu, Grown Ups cukup meningkatkan mood untuk hidup dengan lebih baik lagi, before the life's final buzzer rings.

enjoying your life with nature. kepengen.

Lenny Feder (Adam Sandler) dan empat orang kawannya adalah sahabat yang bertemu dalam sebuah tim basket sekolah ketika mereka berumur 12 tahun. Mereka disatukan dengan kemenangan tim basket mereka yang dilatih oleh Coach Buzzer. Puluhan tahun kemudian, mereka semua memiliki hidup masing-masing dan jalan pikiran yang berbeda, namun tetap pada satu kenyataan yang diajarkan Coach bahwa they have to enjoy the life as you can, before the life's final buzzer rings.

Sampai sekarang emang Adam Sandler belum pernah mengecewakan saya dalam men

gubah film komedi menjadi film drama (kadang romantis, meski sekarang cukup nakal) yang menyentuh hati. Tidak ada efek bagus disini, soundtrack keren, ataupun cerita dan plot yang super sadistis. There's only simplicity on showing people what their lives could be. Menurut saya, hanya kesederhanaan tentang hidup yang ditawarkan dari film Grown Ups ini. Namun justru disitulah sisi menariknya. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dengan mudah karena kondisinya cukup dekat dengan kehidupan yang ada di sekitar kita. Seperti bila kita masih muda, kita bisa memilih untuk jadi orang seperti apa dan menentukan masa depan yang seperti apa dengan menonton Grown Ups ini.

Love your family. That's what count, right? Itu yang penting dan itu yang dihikmahkan di film ini. Penyuguhan cinta keluarga dengan bumbu-bumbu komedi yang cukup nakal membuat film ini beratmosfer berbeda dan cukup segar, seperti penggabungan antara American Pie dan Keluarga Cemara (thanks to ramdaffe).

berenang bareng keluarga. Lenny Feder (kiri) dan McKenzie (Tengah)

Tapi mungkin kalo anda bukan orang yang mudah tersentuh ataupun tidak suka dengan film tanpa greget-greget yang asik dan adegan menegangkan, mungkin Grown Ups akan menjadi film yang tidak menarik. Film ini patut ditonton untuk para melankolis yang "ide"nya adalah mencari jati diri hidup atau mereka yang ingin mengetahui karakteristik memimpin.

the boys altogether. wonder if i could be with my friends for another years.

Adegan favorit gue di film ini ada dua, yang pertama adalah adegan "shift shift" dan yang kedua adegan "blue water" di kolam renang. Cukup original, menurut gue. Dan memang sangat menggambarkan kehidupan sehari-hari orang.

Well, overall film ini hanya patut ditonton. Akan jadi 2/10 untuk pecinta film dengan plot sulit, cerita keren, cool, visual oke, dan sebagainya. Tapi buat gue yang cukup mudah tersentuh dengan film, bisa jadi 6/10. Not too bad though for a family movie (but please, without kid under 17).

Friday, July 9, 2010

Micmacs

Micmacs à tire-larigot, a truly artisan piece and mastermind, from the creator of Amelie!

(2009, Epithète Films, Jean-Pierre Jeunet. Dany Boon, Andre Dussollier, Nicolas Marie, Julie Ferrier. Comedy Crime 105 min)

Pour un film que de ne pas en plein essor, il souffle mon esprit lui-même (For one movie that not to booming, it blows up my mind itself). Dan maaf, gue pake google translate untuk bikin bahasa Prancis diatas. Toh Prancis kali ini tidak lolos ke perempat final piala dunia, mungkin benar kata teman saya bahwa “Prancis harus meng-kloning Zidane terlebih dahulu “ (Inu).

Sekilas tentang Prancis, negara yang indah dan nampaknya akan sulit buat gue untuk hidup disana, dimana makan banyak yang hambar, monotone, dan high-mannered. Tapi ternyata tidak begitu dengan film-filmnya. Salah satunya lihat saja Amelie (2001) dan Martyrs (2009) yang berhasil membuat gue terkagum-kagum dengan berbagai segi dari filmnya. Tentu saja keduanya punya sisi positif dan negatif yang berbeda. Namun tetep aja, gue punya kebahagiaan sendiri pas nontonnya.

Micmacs bercerita tentang Bazil (Dany Boon), penjaga toko DVD yang suatu hari tertembak oleh peluru nyasar, menyisakan penyakit dan peluru di kepala. Peluru di kepalanya merupakan senjata buatan sebuah perusahaan di Prancis. Saat kecil, ayah Bazil pun meninggal ditengah perang karena ranjau yang dibuat perusahaan saingan dari perusahaan pembuat peluru yang bersarang di kepala Bazil. Bersama kolega-koleganya yang memiliki kelebihan masing-masing, ia membalas dendam dengan cara yang sungguh-sungguh menarik dan otentik. Tidak biasa.

Ide cerita awalnya mungkin sudah ide yang terpikirkan jutaan filmmaker di dunia ini. Bukan sesuatu yang aneh bahwa seseorang akan membalaskan dendam atas kematian dan kemalangan yang menimpa dirinya. Namun seperti di Kick-Ass (2010), versi pembalasan dendam disini juga berbeda dari biasanya. Buat gue yang paling menarik dari awal adalah plotting dan karakterisasi yang diceritakan di sinopsisnya. Tidak menjelaskan filmnya dan memang harus ditonton dulu.

Genre kriminal yang disangkut-pautkan dengan komedi sudah sangat banyak, apalagi film-film kulit hitam Hollywood. Namun semuanya tetap saja mengisahkan drama pedih dibaliknya dan pembalasan dendam dengan kekonyolan yang seringnya rasis. Komedi kriminal di Micmacs memiliki jalan yang berbeda. Menurut gue inilah penyebab dia bisa stand-out dibanding film-film semacamnya.

Disutradarai, dibuat, dan diproduseri oleh Jean-Pierre Jeunet yang juga menyutradarai Amelie, film ini memiliki ciri yang sangat khas, sama seperti Amelie. Penonton yang seperti gue, yang pernah menonton Amelie juga, pasti sangat familiar dengan twisting cerita atau efek yang digunakan dalam film. Tentu saja ini merupakan titik kuat dari film-film JP Jeunet yang tidak banyak (Micmacs diproduksi hanya selang 1 film dari Amelie dengan kurun waktu 8 tahun).

Twist cerita yang banyak namun diceritakan secara padat dan cepat, juga pengenalan karakter yang solid, selalu mampu membuat gue terpana dan mengingat masing-masing karakternya serta pengembangannya. Seakan memang karakter-karakter itu hidup dan ada dalam dunia ini (mungkin memang ada sih). Seperti Calculette, Petit Pierre, Remington, dan sebagainya. Namun yang paling outstanding memang Bazil dan La Môme Caoutchouc (Julie Ferrier), atau elastic girl. Menurut gue dua orang ini punya emosi yang datar dalam film, namun mampu menarik perhatian sebegitu gede-nya ke gue. Lain halnya dengan duo boss perusahaan senjata, Marconi (Nicolas Marie) dan Fenouillet (Andre Dussolier). Tingkat emosional dan penggagahan karakternya sangat rumit dan tinggi, ketimbang Bazil yang dibikin oon dan Caoutchouc yang cukup lentur saja. Marconi sangat proud, tidak pedulian dan suka pamer, dengan Fenouillet yang suka mengoleksi benda-benda historical namun pelit, perhitungan, dan mudah panik.

Scoring dan lagu yang dipake di film ini cocok, sangat menyesuaikan dengan kondisi film dan alurnya. Mungkin ini juga ciri khas film Prancis dimana lagunya sendiri memang sudah khas, mendayu namun tegas. Pada ceritanya, klimaks di film ini bisa terjadi berkali-kali. Buat gue itu semua ada dari awal kecelakaan, prosesi penyusupan, dan semua cerita sabotase yang terjadi punya klimaksnya sendiri-sendiri. In a few words, I love all those part of the movie!

Gue gatau bagian mana yang mau gue cela. Kecuali dari segi cerita yang sebenernya biasa aja. Gue sendiri entah kenapa yakin kalo yang bikin adalah Hollywood dan sutradaranya bukan JP Jeunet, terus jadinya bukan film Prancis, film ini cuma akan jadi film hambar dengan rating ga sampe 5,5 di IMdB. Trust me, what worth it are the plot, the characteristic, and the seizure it gives you. Gue memberikan nilai tersendiri; 7,5 out of 10. Dan kalo kita mau menyisihkan cerita (bukan penceritaan) maka itu bisa gue naekin jadi 8,5 out of 10!

Whatever, you may experience different result, so why don’t you just watch it?

Since the start of the movie, I’m telling myself over and over again. This was work of a real artisan.

Wednesday, January 20, 2010

the Invention of Lying




The Invention of Lying, in a world where everyone can only tell the truth, this guy can lie.

(2009, Focus Features International, Ricky Gervais & Matthew Robinson. Ricky Gervais, Jennifer Garner, Jonah Hill, Rob Lowe. Comedy Fantasy 99 min)

Setelah lama banget ga nonton film, akhirnya gue nonton film lagi. Kali ini filmnya The Invention of Lying, nontonnya di DVD ketika gue lagi baca kungfuboy di laptop seru-serunya. Karena ngerasa biasa aja, gue membiarkan Tangkas menyetelnya dan kayanya gue akan baca sambil sedikit-sedikit nonton saja. Semua itu gagal. Gue bahkan langsung tertarik nonton film ini dari sejak opening titlingnya keluar. Awalnya gue merasa bahwa film ini cuma film drama komedi romance yang heartwarming aja. Tapi ternyata, rada jauh dari itu justru.

Detail, ini salah satu keunggulan film ini. Detail-detail yang memang diciptakan dan dipandu oleh Ricky Gervais & Matthew Robinson ini memang menarik, disamping sangat mendukung konsep cerita yang ada, ketidakmungkinan yang dijadikan realita di film ini sungguh berhasil membuat gue terpukau. Seperti opening titling yang mengomentari orang-orang di title itu, pengenalan dunia absurd dengan sekonkret mungkin, penamaan hal-hal wajar dengan bodoh, atau munculnya kata-kata jujur yang mengocok perut.

Sebelum berapresiasi lebih jauh, the Invention of Lying tentu saja bercerita mengenai penemuan berbohong itu sendiri. Adalah Mark Bellison (Ricky Gervais, sutradaranya sendiri) yang merupakan seorang screenwriter cupu, gendut, gak pede, loser lah pokoknya. Tapi dia hidup di dunia dimana orang-orang selalu berkata jujur karena memang tidak bisa berbohong, bukannya tidak mau. Sampai suatu saat terjadi turning point dimana Mark mendapatkan ability untuk berbohong.

Nah adegan-adegan kocak di film ini tentu berisikan dialog dialog bodoh yang jujur, dari dalam hati, dan memang logis. Sungguh jelas kekonsistenan Ricky & Matthew dalam membuat film ini, dimana memang konsisten hanya Mark yang bisa bohong, dan efek bohongnya sangatlah mendalam. Menurut gue ini seperti membuktikan bahwa bohong itu memang nikmat, tapi tentu memiliki konsekuensi yang sangat besar. Seakan-akan, berbohong disini adalah sebuah kekuatan super dari superhero penyelamat dunia. Kocak tentu, bagaimana Mark mempergunakan kebohongannya untuk mendapatkan hal yang dia inginkan, namun tentu dengan konsekuensi yang ada, ia mendapat ganjaran yang setimpal juga.

Esensi film ini jelas sampai ke akar-akarnya, dimulai dari judul, akting, cerita, set, dunia, situasi, semua mendukung. Padahal, harsh and sarcastic british comedy biasanya merupakan salah satu komedi yang paling lokal di dunia ini (selain komedi lokal Indonesia yang benar-benar hanya di Indonesia bisa dilakukannya). Namun di film ini nggak demikian. Semua cast, termasuk pemeran Anna (Jennifer Garner) yang menjadi teman kencan Mark, Frank (Jonah Hill) yang menjadi salah satu teman terbaik Mark, dan tentunya Brad Kessler (Rob Lowe) si antagonis yang memiliki apa yang tidak dimiliki Mark. Pembangunan karakternya solid, dan tidak bertele-tele. Juga Fun.

Semua hal diatas pasti berkat screenplay yang luar biasa, dan tentunya dibarengi aktor-aktris yang lebih luar biasa lagi. Pengembangan cerita pun meski agak monoton, namun tetap diselingi kelucuan. Seperti bertemu orang yang sama di tempat yang sama berkali-kali, namun kondisinya berbeda-beda. Dan memang menunjukkan perubahan yang berarti dan beralasan.

Menurut gue film ini nggak berat, tapi juga butuh sedikit membuka pikiran dalam menonton. Pasalnya, dunia di film ini benar-benar berbeda, dan kalo boleh dibilang, cukup outstanding. Segalanya benar-benar meyakinkan dan membuat gue pengen hidup di dunia seperti itu. Pokoknya The Invention of Lying akan menjadi salah satu film komedi wajib tonton bagi para penggemar komedi, terutama penggemar film dengan logat british super kental.

It’s hilariously fun, and differently honest. And so far, it is too honest.

FYI, ketika mengetik review ini, gue kerap mengetik the invention of "lyung" atau "lyong". entah kenapa jari ini kepleset terus.

Tuesday, December 29, 2009

Zombieland



Zombieland, This place is so dead.

(2009, Columbia Pictures, Ruben Fleischer. Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Emma Stone, Abigail Breslin. Comedy Horror 88 min)

There are rules to survival. And “DO NOT be a hero” is one rule to survive in Zombieland. Film ini membuat gue terpana sejak gue liat opening titlingnya (atau memang cuma itu yang membuat gue terpana?). Zombieland itu, film horor yang komedi, atau komedi yang horor, atau horror yang lucu, atau thriller yang horror yang komedi. Atau yang paling mungkin adalah komedi sarkastik dan gory yang disajikan dengan nuansa horror yang terrific. Zombieland bukan horror kacangan yang menjual kepornoan atau brutalitas dengan menjadi slapstick maksa.

Ya, film horror ini brutal, brutal dengan caranya sendiri. Darah (atau oli?) dimana-mana, usus berkeliaran, dan adegan kekerasan yang jelas saja gaboleh ditiru bocah-bocah kecil dirumah. Tapi dari segi filmmaker, zombieland bener-bener memanfaatkan teknologi art dan sinematografi yang terrific. Mungkin slow-mo yang digunakan di titlingnya ngga se-ngefek slow motion titling watchmen (2009), tapi menurut gue slowmotion nya sangat cool dan juga they had their own way to express brutality on everyday activity! Tapi sayangnya itu cuma ada di opening sama beberapa scene di awal, sisanya adalah klimaks, istirahat, klimaks dengan adegan-adegan yang penuh aksi dan komedi selayaknya film horror.

Oh, Zombieland bercerita tentang survival of Columbus (Jesse Eisenberg), remaja gamer-geek yang ansos di U.S of Zombieland (yang tadinya USA) bersama Tallahassee (Woody Harrelson), barbaric-tough-guy yang ia temui di jalan dan dua orang lainnya, Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (yang tentu saja dimainkan oleh Abigail Breslin -definitely maybe, little miss sunshine-, dimana gue ga sadar kalo dia main di film ini karena di cover dvd yang gue tonton cuma ada Jesse, Woody dan Emma. Gaada Abigail. Gimana bisa?). Itu saja, simpel. Just another movie about how to survive in some situation called zombie-alert. And that is by following those #1 - #32 zombieland’s rules of survival. (nggak semua rules dimunculkan di film sih).

Mungkin akting Jesse Eisenberg biasa aja, hanya taraf good enough to be a main actor. Tapi gue rasa disini akting Woody Harrelson dan (tentu saja) Abigail Breslin sangat luar biasa! Bagaimana mereka bisa memunculkan sisi-sisi yang physically bukan mereka banget (meski ini yang biasa mereka lakukan di film-film lain mereka). Sayangnya, Emma Stone hanyalah tipe cewek yang slurp slurp untuk gue lihat, aktingnya biasa aja juga. Tapi yaa, kombinasi empat orang itu berhasil bikin gue nyaris ketawa terbahak-bahak (masih lebih ngakak doghouse (2009)) karena banyolan-banyolan orang amerika yang cukup segar dan rada mudah dimengerti buat gue.

Gue sangat suka adegan-adegan dimana rules dalam zombieland’s survival ini berkali-kali ditekankan. Karena adegannya selalu berulang dengan penekanan yang berbeda-beda, antara pistol dan tutup pispot. Oh, juga ketika Wichita mabuk sama Columbus di safehouse. It’s really seducing. Haha, tapi kalo ini purely Efek aktrisnya, bukan efek adegan atau efek aktingnya. Disamping itu, twist yang sama berulang kali digunakan dalam film ini, namun sama seperti penekanan rules, caranya berbeda. Meski berulangkali hanya diisi lawakan amrik dan kekerasan yang mungkin lucu-lucu aja, zombieland tetep laughable buat gue.

There are rules to survival. And to survive zombieland, is to laugh on watching it. So, knock it up or shut up and sleep!


Sebenernya gue pengen "survival rule #4 : don't be a hero" jadi poster untuk zombieland ini, tapi ternyata dari IMDB gabisa di copy link! haha

Update : Gue menemukan posternya, dan menggantinya! haha