Requiem for a Dream,
Lux Aeterna reveals her true self...
![]() |
| Sara Goldfarb mengawali "transformasi" nya |
![]() |
| Sara Goldfarb mengawali "transformasi" nya |

(2009, Wayfare Entertainment, Neil Jordan. Colin Farrell, Alicja Bachleda, Alison Barry. Drama Romance 111 min)
Misery is easy, Happiness you have to work at.
Ondine bercerita tentang seorang pria yang bercerita. Syracuse (Colin Farrell) adalah nelayan di daerah Irlandia, dimana suatu hari dia menemukan seorang wanita didalam jaring yang ditebarnya di laut. Aneh? Ga logis? Nampaknya semuanya memang dimaksudkan untuk bertanya-tanya dan membuat sebuah misteri tersendiri. Wanita yang diangkat oleh Syracuse adalah Ondine (Alicja Bachleda), yang pada akhirnya dianggap seekor mermaid oleh Syracuse dan anaknya, Annie (Alison Barry).
Film ini bisa dibilang cukup lama, cukup panjang, dan kurang menarik perhatian. Selain akting Colin Farrell yang biasanya unik, mungkin hampir tidak adalagi yang menarik dari film ini. Secara cerita, banyak sekali karangan-karangan atau cerita yang dibuat dalam film ini. Agar membuat filmnya cukup logis. Meski dengan twists yang sebenarnya sedikit tertebak, pengetahuan yang didapat cukup membuat saya berpikir “ooh”. Nampaknya film ini kurang bisa memainkan emosi saya. Sebenarnya terdapat beberapa adegan yang visually dramatic namun malah terkesan dipaksakan. Seperti saat-saat Ondine berenang, atau twist terakhir yang menjelaskan segalanya.
Meskipun bercerita tentang kehidupan di daerah laut, film ini tidak banyak memiliki adegan bawah laut yang menakjubkan. Padahal biasanya hal-hal itulah yang dibawa film-film seperti ini. Karena Ondine nampaknya lebih menekankan pada drama dan romansanya, pengambilan gambarnya cukup standar saja. Bahkan di beberapa adegan ada yang bikin saya kecewa, ketika adegan malam dan gambarnya seperti di-push sampai terlihat.
Saya belum pernah menonton “Interview with the Vampire :the Vampire Chronicles” (1994). Salah satu film terbaik Neil Jordan sang sutradara yang pada akhirnya ditempatkan di kover atau poster film ini sebagai pembuatnya. Memang, Neil Jordan bisa dengan baik mengarahkan Colin dan Alicja, terutama Alison yang masih anak kecil, tapi malah bermain sangat bagus. Tapi sayangnya pengkarakteran mereka semua saya rasa kurang mengena. Seperti Syracuse yang awalnya alkoholik berat, dan ketika kembali mengkonsumsinya sebegitu saja langsung tersadar, atau Annie yang penyakitnya tidak dijelaskan mengapa ia harus selalu menggunakan kursi roda, padahal ditengah-tengah film dia bisa tiba-tiba saja berdiri, berjalan dan mendorong kursi rodanya tersebut. Di beberapa review orang yang saya lihat malah banyak yang mencerca Alicja karena hanya dapat “menangis, tertawa, terlihat seksi dan berenang di saat yang tepat”.
Ketika bicara akting, Colin Farrell memang sulit untuk diragukan. Beliau memang cukup piawai memainkan karakter seperti Syracuse dalam film ini.Kalau menurut saya sebenarnya, Alicja juga bermain bagus menjadi Ondine, hanya saja peran yang diberikan padanya cukup terbatas. Tapi jujur dalam film ini Alicja terlihat sangat seksi. Dan keputusan Neil Jordan memilih Alicja karena wajahnya tidak familiar sebagaimana Colin Farrel menurut saya sangat tepat. Terasa sekali ketidak familiaran pada Alicja ketika menonton film ini, yang menyebabkan misteri-misteri Ondine semakin menarik. Sayangnya, tetap saja yang memenangkan Best Actor IFTA Award (sebuah festival film di Irlandia) untuk film ini adalah akting Colin Farrell, bukan Alicja. Dan pemeran mantan istri Syracuse, Maura (Dervla Kirwan) malah memenangkan Best Supporting Actress di IFTA Award juga. Mungkin memang lebih sulit memerankan ibu pemabuk yang tetap sayang dan peduli sama anaknya.
Oh iya, salah satu hal yang menarik dari film ini adalah musiknya. Musik yang mengayun adalah musik-musik Sigur Ros. Awalnya juga saya tidak sadar karena tidak terlalu tertarik dengan musik. Namun ternyata dalam film ini juga mereka di-featurekan dalam suatu adegan. Mungkin Neil juga mengambil mereka sebagai background music karena Sigur Ros merupakan band yang cukup tidak Mainstream dalam dunia film. Aliran musiknya terasa enak di telinga. Sampai akhirnya film ini memenangkan award Best Sound dalam IFTA award. Begitu juga lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Ondine.
Overall, menurut saya film ini biasa saja. Di salah satu review IMDb bilang bahwa film ini sangat cocok untuk ditonton apabila sedang sakit dan butuh tidur. Namun film ini cukup bisa menemani saya yang menunggu waktu kuliah-yang tinggal setengah jam lagi saat menulis review ini- dan hanya di beberapa adegan yang membuat mengantuk, dimana setelahnya biasanya dibangunkan lagi dengan adegan suspense. Mungkin saya akan beri 7 dari 10 apabila harus menilai. Saran saya tontonlah film ini apabila memang anda sedang berkesempatan dan memiliki waktu luang. Rasa-rasanya, jika memang ketika menonton tiba-tiba anda harus pergi, anda akan malas untuk melanjutkannya lagi. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika menonton.

(2010, Happy Madison Productions, Dennis Dugan. Adam Sandler, Rob Schneider, Salma Hayek, Kevin James, David Spade. Drama Comedy 102 min)
Sudah nyaris sebulan lebih saya tidak menonton film secara serius atau secara penuh. Hanya nonton serial TV Glee saja setelah nonton Inception (2010) karena kesibukan sehari-hari yang aneh ini. Sebenernya sebelum ini sempat menonton Catch Me If You Can (2002) dan The Fourth Kind (2009) secara sangat tidak fokus di ruang santai unit saya, LFM.
Grown Ups tadinya nampak seperti komedi murahan konyol yang nakal, dimana ekspektasi saya ceritanya akan berkutat di sekitar orang dewasa yang terus saja bersikap seperti anak kecil. Karena di tagline posternya juga "Boys will be boys... some longer than others." Tapi untungnya dengan ekspektasi seperti itu, Grown Ups cukup meningkatkan mood untuk hidup dengan lebih baik lagi, before the life's final buzzer rings.
enjoying your life with nature. kepengen.
Lenny Feder (Adam Sandler) dan empat orang kawannya adalah sahabat yang bertemu dalam sebuah tim basket sekolah ketika mereka berumur 12 tahun. Mereka disatukan dengan kemenangan tim basket mereka yang dilatih oleh Coach Buzzer. Puluhan tahun kemudian, mereka semua memiliki hidup masing-masing dan jalan pikiran yang berbeda, namun tetap pada satu kenyataan yang diajarkan Coach bahwa they have to enjoy the life as you can, before the life's final buzzer rings.
Sampai sekarang emang Adam Sandler belum pernah mengecewakan saya dalam men
gubah film komedi menjadi film drama (kadang romantis, meski sekarang cukup nakal) yang menyentuh hati. Tidak ada efek bagus disini, soundtrack keren, ataupun cerita dan plot yang super sadistis. There's only simplicity on showing people what their lives could be. Menurut saya, hanya kesederhanaan tentang hidup yang ditawarkan dari film Grown Ups ini. Namun justru disitulah sisi menariknya. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dengan mudah karena kondisinya cukup dekat dengan kehidupan yang ada di sekitar kita. Seperti bila kita masih muda, kita bisa memilih untuk jadi orang seperti apa dan menentukan masa depan yang seperti apa dengan menonton Grown Ups ini.
Love your family. That's what count, right? Itu yang penting dan itu yang dihikmahkan di film ini. Penyuguhan cinta keluarga dengan bumbu-bumbu komedi yang cukup nakal membuat film ini beratmosfer berbeda dan cukup segar, seperti penggabungan antara American Pie dan Keluarga Cemara (thanks to ramdaffe).
berenang bareng keluarga. Lenny Feder (kiri) dan McKenzie (Tengah)
Tapi mungkin kalo anda bukan orang yang mudah tersentuh ataupun tidak suka dengan film tanpa greget-greget yang asik dan adegan menegangkan, mungkin Grown Ups akan menjadi film yang tidak menarik. Film ini patut ditonton untuk para melankolis yang "ide"nya adalah mencari jati diri hidup atau mereka yang ingin mengetahui karakteristik memimpin.
the boys altogether. wonder if i could be with my friends for another years.
Adegan favorit gue di film ini ada dua, yang pertama adalah adegan "shift shift" dan yang kedua adegan "blue water" di kolam renang. Cukup original, menurut gue. Dan memang sangat menggambarkan kehidupan sehari-hari orang.
Well, overall film ini hanya patut ditonton. Akan jadi 2/10 untuk pecinta film dengan plot sulit, cerita keren, cool, visual oke, dan sebagainya. Tapi buat gue yang cukup mudah tersentuh dengan film, bisa jadi 6/10. Not too bad though for a family movie (but please, without kid under 17).