Showing posts with label queen of heart. Show all posts
Showing posts with label queen of heart. Show all posts

Tuesday, June 15, 2010

Alice in Wonderland in Burtonmode


Alice in Wonderland, You’ve got a very important date...

(2010, Walt Disney Pictures, Tim Burton. Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, Crispin Glover. Fantasy 108 min)

Curiouser, curiouser. Ya, Alice in Wonderland yang sebenarnya dulu belum pernah novelnya gue baca secara sempurna meski punya hard kopi dan soft kopi nya, film kartunnya belum sempat ditonton meski sudah masuk rotasi ruang santai, dan memang feature-feature menarik yang mempengaruhi banyak sekali film. Semua itu bikin gue curious akan film ini. Tapi hanya satu kata yang dapat menggambarkan Alice in Wonderland setelah gue menontonnya.

Hollow. Ya, kosong. Entah mungkin film ini bukan tipe film gue, tapi notabene film-film yang gue bilang bagus adalah film yang bisa membawa gue nonton sampe akhir dan merasa berbeda setelah keluar dari bioskop. Alice in Wonderland mendapat rekomendasi tinggi dari beberapa temen yang memang biasanya seleranya sama, more or less, meski gue sendiri lebih jarang nonton film disbanding mereka. Tapi dengan ekspektasi yang tinggi akan cerita-cerita dan fantasi yang aneh, Alice in Wonderland ternyata tidak sanggup menggapai ekspektasi yang udah gue bikin.

Alice in Wonderland arahan Tim Burton ini menceritakan kembalinya Alice (Mia Wasikowska) yang sudah dewasa ke wonderland, (yang entah kenapa jadinya underland?) setelah sebelumnya dilamar oleh seorang lord yang kaya di dunia nyata dan kabur dari menjawab. Di underland dia bertemu Mad Hatter (Johnny Depp) dan koleganya untuk bersatu melawan Red Queen (Helena Bonham Carter) dan ajudannya Stayne (Crispon Glover) di hari Frabjous, dimana di hari itu Red Queen dan White Queen (Anne Hathaway) akan bertarung untuk memperebutkan tahta di underland.

Where should I start? Alice di film ini terlihat seperti cewek bodoh yang linglung dan berjalan kesana-kemari hanya sesuai hati. Mungkin gue ga baca novelnya dan gatau sebenernya Alice seperti apa. Mudah-mudahan ternyata memang dalam novel pun karakter Alice seperti itu. Namun sejak awal seperti banyak sekali keanehan pada si Alice ini. Tapi sekali lagi mungkin karena karakterisasi dari Tim Burton memang seperti itu, Alice cenderung bukan seperti seorang Alice yang wondrous, tapi betul-betul underous (bahkan underous sama sekali bukan sebuah kata). Dimana sepanjang film dia akan terlihat murung, meskipun sebenarnya dia lagi senang.

Johnny Depp, lebih-lebih lagi, tidak tergambar karakter ekstrim dari kata MAD hatter. Dalam film ini justru lebih cenderung seperti SAD hatter. Tidak kurang dan tidak lebih. Tapi sekali lagi mungkin memang seperti itulah karakterisasi oleh Tim Burton. Mari lupakan Anne Hathaway yang memerankan White Queen yang gemulai. Selain perannya memang sedikit, karakternya justru terlalu kuat sebagai ratu yang terlalu lemah lembut meski memegang teguh satu janji.

Sebaliknya, Helena Carter memerankan Red Queen’s “Off with their heads”! Dengan sangat menarik. Meski jujur gue agak terganggu dengan inproporsional dan bluffing nya agak sedikit terlihat di awal film. Tapi diluar itu semua, aktingnya luar biasa dan perannya dapat. She’s so high of herself and her ego. Yang dengan bodohnya hubungannya dengan Stayne berakhir aneh akibat ulahnya sendiri. Orang-orang aneh di sekitar Red Queen pun cukup meyakinkan dan selalu ada meski hanya sekilas. Namun seperti tertekankan bahwa itu juga termasuk inti dari cerita ini.

Ceritanya punya twist yang cukup aneh, dimana twist-twist tersebut tidak dibuat sebagai twist. Seperti ketika Alice bertemu Red Queen pertama kalinya, dan adegan perang di Frabjous Day. Meskipun begitu, cerita Alice ini memang berbeda dari novelnya ataupun animasi sebelumnya, baik Alice in Wonderland maupun Through the Looking Glass, karena memang screenplay dan cerita ini diadaptasi oleh Linda Woolverton dari cerita originalnya Lewis Carroll. Tapi meski belum pernah membaca atau menonton cerita aslinya, sedikit-sedikit akan tahu ini siapa dan kenapanya, karena memang ada sedikit flashback-flashback.

Tapi tetap, Tim Burton memang raja dalam exploitasi makeup. Makeup dalam film ini luarbiasa, meski (tetap) makeup White Queen ga enak dilihat, tapi tetap menguatkan karakter di film ini. Dan dari situ malah memang menguatkan karakterisasi yang memang dibuat oleh Tim Burton disini, seperti Alice yang underous tadi dan sad Hatter.

Overall, Alice in Wonderland tetap menjadi film yang layak tonton. Meski mungkin akan terasa sedikit kosong dan hanya oh ya oh ya setelah menonton, masih memungkinkan anda akan suka film ini. Bergantung dari tipe film seperti apa yang anda suka. Tapi percayalah, when Tim Burton meets Alice, it would be the Frabjous day without Jabberwocky or Vorpal sword either. We won’t know who wins. So, watch it!

Wednesday, June 9, 2010

Alice in Wonderland in Technicolor!

Alice in Wonderland, curiousity leads to curiouser...

(1951, Walt Disney Production, Clyde Geronimi, Wilfred Jackson, Hamilton Luske. Kathryn Beaumont, Ed Wynn, Verna Felton, Bill Thompson. Fantasy 75 min)

Film ini adalah film kartun yang tua, usianya hampir 50 tahun, hampir 2,5 kali lipat umur gue sendiri. Dibuat tahun 1951, Alice in Wonderland jadi salah satu kartun yang legendaris di dunia dan ceritanya termasuk tak lekang oleh zaman. Daya tarik ceritanya membuat banyak sekali cerita, baik film, komik, maupun drama mengikuti dan mengambil porsi dari Alice in Wonderland ini.

Alice in Wonderland bercerita tentang Alice, seorang anak orang kaya yang bosan ketika sedang diberi pelajaran privat oleh gurunya, dan menemukan seekor kelinci yang terlambat mendatangi sesuatu. Alice mengikuti kelinci tersebut dan akhirnya terdampar di Wonderland. How wondrous this Wonderland is? Jawabannya ada di film. Benar-benar wondrous seperti yang dijabarkan Alice di awal film mengenai Wonderland miliknya.

Alice in Wonderland termasuk salah satu kartun yang menarik untuk ditonton, sayangnya buat gue, gue kurang berhasil dalam menyimaknya. Beberapa cerita harus gue ulang untuk gue mengerti maksudnya apa. Bahkan terkadang sampai kebosanan karenanya. Dalam film ini, gue sempet tertidur tiga kali dalam dua hari nonton yang berbeda, masing-masing sekali percobaan nonton.

Bila ditelusuri dan dipahami, alur ceritanya sangat-sangat menarik, ditambah gue nontonnya setelah nonton Burton’s Alice yang notabene merupakan lanjutan cerita dari Alice in Wonderland ini. Yang akhirya menyebabkan banyak sekali pembandingan-pembandingan yang gue lakukan ketika menonton. Baik cerita maupun alurnya memiliki kekonsistenan, yaitu absurditas. Nampaknya tidak seperti kartun Disney lainnya, Alice in Wonderland bermaksud untuk menyampaikan berbagai hikmah tanpa secara gamblang. Banyak sekali simpang-siur ceritanya disini.

Seperti yang kita tahu, atau bisa dibaca di review gue mengenai Burton’s Alice, kedua film ini adalah dua film yang berbeda. Baik dari segi cerita maupun karakterisasi. Mungkin memang dalam film yang barunya, banyak karakterisasi yang merupakan interpretasi baru Burton mengenai karakter tersebut, sehingga terjadi beberapa perbedaan yang cukup signifikan. Diantaranya Mad Hatter, Chesire Cat, dan Alice sendiri. Disini Alice benar-benar menunjukkan sifat curious nya kepada hamper segala hal. Mad Hatter dan teman-temannya benar-benar gila, dan Chesire terlihat lebih tidak jelas.

Soal karakterisasi, selain Alice, karakter lain yang ada di film ini cukup kuat meski hanya mendapat peran sedikit. Seperti Chesire Cat, White Rabbit, Mad Hatter and the tea party, Tweedle Dee dan Tweedle Dum, bahkan si red queen sendiri. Yang anehnya gue bahkan baru tau kalo ternyata ada King of Heart.

Tapi tenang, meskipun Alice in Wonderland berbeda dalam mengusung cerita, Alice in Wonderland tetap memegang Disney secara kultural. Alice in Wonderland adalah film kartun musical juga yang memainkan banyak musik dan lirik yang enormous dan mesmerizing. Sangat cocok dengan suasana meriah ala Disney Classic yang bahkan bisa merubah omongan dan obrolan dapat menjadi nyayian.

Last but not least, Alice in Wonderland (1951) adalah salah satu film kartun terbaik yang pernah ada di dunia ini. Cerita yang tak lekang oleh waktu dan banyak mengilhami orang ini patut ditonton dan diapresiasi secara mendalam. I recommend you to watch this!